Melestarikan Aksara Pegon
Aksara Pegon di papan tulis TPQ
Memasuki semester 7, aku melaksanakan KKN sebagai tugas wajib dari kampus. Begitu banyak hal baru yang kudapat selama tinggal di desa orang. Salah satunya adalah pengalamanku mengajar di TPQ Nurul Iman, Kampung Garudug, Desa Rancaiyuh.
Berbekal pengalaman mengajar anak TPQ dari organisasi sebelumnya, aku pikir tidak akan ada kendala. Apalagi aku bersama kawan-kawanku. Awalnya, aku mengira anak-anak di desa ini tertinggal. Karena letaknya jauh dari hiruk pikuk kampusku di kota besar.
Namun, saat pertama kali masuk ke TPQ, aku terkejut. Mereka sedang tekun menyalin tulisan Pegon Sunda dari papan tulis. Umi Leti, guru ngaji di sana, bilang beliau memang sudah biasa mengajarkan aksara Pegon. Dengan sedikit malu, kami mengaku tidak mampu mengajarkan hal itu. Kami bukan orang Sunda.
Selama pembelajaran, kami menyimak bacaan anak-anak, baik yang masih Iqro' maupun yang sudah Al-Qur'an. Sebelum pulang, kami sempatkan memberi materi dasar tajwid dan ilmu agama lain. Usia mereka paling kecil 5 tahun, paling besar kelas 5 SD.
Kejutan kedua datang saat mereka menyalin hadits pendek yang kami tulis. Tulisan Arab mereka semua rapi sekali. Aku langsung berkaca pada diri sendiri. Aku baru bisa serapi itu setelah masuk pondok. Sementara mereka, masih SD, sudah jauh di atasku.
Aku yakin mereka bisa karena sudah terbiasa. Dan memang, kebiasaan akan mengubah diri kita.
Di era gadget dan media sosial, ternyata di kampung ini aksara Pegon masih hidup. Masih diajarkan. Masih ditulis tangan. Aku bangga dan terharu. Anak-anak sekecil ini sudah menjaga warisan tulisan.
Terima kasih, TPQ Nurul Iman. Kau sudah mengajarkanku bahwa "kecil" bukan berarti "belum bisa". Mungkin kita datang untuk mengajar, tapi ternyata kamilah yang diajari.
____
𝓣𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪 𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓮𝓷𝓪𝓷 𝓼𝓲𝓷𝓰𝓰𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓪𝓲 𝓪𝓴𝓱𝓲𝓻. 𝓢𝓮𝓶𝓸𝓰𝓪 𝓪𝓭𝓪 𝓼𝓪𝓽𝓾 𝓴𝓪𝓵𝓲𝓶𝓪𝓽 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓲𝓷𝓰𝓰𝓪𝓵 𝓭𝓲 𝓱𝓪𝓽𝓲.


Komentar
Posting Komentar