Senja, Qur'an, dan Kedamaian yang Tak Bisa Terulang
Banyak orang yang menggambarkan pesantren sebagai institusi yang identik dengan disiplin keras, iqab, dan jadwal super padat. Berbagai tantangan telah aku lalui selama di pesantren. Di sana, ketegangan bisa datang kapan saja, terutama jika melanggar aturan bahasa.
Aku selalu ingat, setiap jam 5 sore, saat kita sedang berkumpul atau beristirahat, tiba-tiba ada pengumuman mendadak dari bagian bahasa yang membuat semua orang langsung diam membatu menanti pengumuman. Santriwati sampai berteriak “Kiamat! Kiamat!” saking menakutkannya. Bahkan, aku sendiri pernah menerima hukuman karena mengatakan "Es Krim" dalam bahasa Indonesia, seharusnya aku bisa mengatakannya sedikit lebih Inggris "Ice Cream". Aku pun harus menjalankan hukuman yaitu membantu bagian bahasa pusat selama sehari penuh. Momen itu tidak akan pernah aku lupakan.
Namun, di balik semua kedisiplinan dan hukuman itu, ada satu hal yang ingin aku bagi bahwa pesantren adalah tempat paling nyaman dan damai yang pernah aku temukan. Kenyamanan ini terasa begitu dalam, dan aku tahu alasannya. Di luar sana, kita terbiasa terdistraksi oleh layar sedangkan di pesantren kita tidak memegang hp. Hilangnya distraksi digital inilah yang membuka mata dan hati sepenuhnya terutama pada diriku. Hal yang selalu aku rindukan dan jarang sekali aku temukan di tempat lain adalah lantunan ayat suci Al-Qur’an dan sholawat dari masjid pesantren.
Momen ini adalah jantung dari semua kedamaian. Sesaat setelah Maghrib atau menjelang Subuh, saat kami bersiap di kamar, tiba-tiba terdengar suara dari masjid. Itu bukan sekadar qira'ah biasa, melainkan lantunan Al-Qur’an dan sholawat merdu dari para santri yang suaranya mengisi setiap sudut asrama. Tidak ada musik yang lebih menenangkan dari itu.
Bahkan, dari kamarku di lantai 3, aku bisa melihat sorot lampu dari Mall di sebelah pondok pada malam hari. Itu menjadi sebuah pengingat akan hiruk-pikuk dunia. Namun, lantunan dari Masjid terus berkumandang terlihat kontras dengan Mall di sebelah. Pesantren mengajariku memilih antara gemerlap yang fana, atau lantunan suci yang menenangkan jiwa.
Saat sore tiba, kami disuguhi lukisan langit yang berganti warna. Itu adalah momen favoritku. Baik itu senja yang menawan atau pemandangan gunung yang siluetnya terpampang indah di kejauhan. Bagiku, melihat secara langsung goresan indah karya yang Maha Kuasa tidak akan sama dengan hasil jepretan.
Lalu datang malam, membawa keheningan. Setelah jam malam, ketika semua rutinitas selesai, kedamaian sejati muncul. Aku sering menyeduh teh tawar hangat dan meminumnya di depan kamar sambil memandangi bintang di atas langit malam saat semuanya sudah sunyi.
Namun, keheningan ini juga sering diisi dengan tawa. Karena tidak ada hp, santri mencari kegiatan yang tak kalah serunya. Salah satunya adalah pinjam-meminjam novel. Bahkan tak jarang kita sampai begadang agar selesai membaca ceritanya karena akan dioper ke teman yang lain.
Jika ditanya apakah aku menyesal menghabiskan masa muda di pesantren? Tentu saja Tidak Sama Sekali. Justru, hari ini, aku diliputi rasa rindu yang tak bisa terulang. Momen-momen itu adalah kedamaian sejati yang kini sulit aku temukan.
____
𝓣𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓽𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓰𝓾𝓷𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓪𝓽𝓪 𝓲𝓷𝓭𝓪𝓱𝓶𝓾 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓽𝓾𝓵𝓲𝓼𝓪𝓷𝓴𝓾 ♥

Komentar
Posting Komentar